Obat tradisional

Obat tradisional adalah obat-obatan yang diolah secara tradisional, turun-temurun, berdasarkan resep nenek moyang, adat-istiadat, kepercayaan, atau kebiasaan setempat, baik bersifat magic maupun pengetahuan tradisional. Menurut penelitian masa kini, obat-obatan tradisional memang bermanfaat bagi kesehatan, dan kini digencarkan penggunaannya karena lebih mudah dijangkau masyarakat, baik harga maupun ketersediaannya. Obat tradisional pada saat ini banyak digunakan karena menurut beberapa penelitian tidak terlalu menyebabkab efek samping, karena masih bisa dicerna oleh tubuh.

Beberapa perusahaan mengolah obat-obatan tradisional yang dimodifikasi lebih lanjut. Bagian dari Obat tradisional yang bisa dimanfaatkan adalah akar, rimpang, batang, buah, daun dan bunga. Bentuk obat tradisional yang banyak dijual dipasar dalam bentuk kapsul, serbuk, cair, simplisia dan tablet.

[sunting] Macam-macam Obat Tradisional

Leave a comment »

Khasiat Mahkota Dewa


Tumbuhan dengan nama ilmiah Phaleria macrocarpa di kenal juga dengan nama simalakama (Melayu/Sumater), Makuto Dewo (Jawa). Tanaman ini berasal dari Papua dan sudah terkenal berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit, seperti: Diabetes Mellitus, Kanker dan Tumor, Hepatitis, Rematik dan Asam urat

1. Diabetes Mellitus
Pengobatan: Minum air rebusan
Cara membuat: – Ambil 5-6 buah mahkota dewa, iris dan cuci bersih.
– Rebus bahan dalam 5 gelas air, biarkan rebusan hingga air tersisa 3 gelas
– Saring air rebusan, minum 3 kali sehari (masing-masing 1 gelas)

2. Kanker dan Tumor
Pengobatan: Minum air rebusan
Cara membuat: – Campur 5 gram daging buah mahkota dewa kering dengan 15 gr temu putih, 10 gr sambiloto kering dan 15 gr cakar ayam kering, cuci bersih semua bahan
– Rebus semua bahan dalam 5 gelas air, biarkan rebusan hingga air tersisa 3 gelas
– Saring air rebusan, tunggu sampai dingin dan minum 3 kali sehari masing-masing 1 gelas. Ramuan diminum 1 jam sebelum makan

3. Hepatitis
Pengobatan: Minum air rebusan
Cara membuat: – Campur 5 gram daging buah mahkota dewa kering dengan 15 gr pegagan, 10 gr sambiloto kering dan 15 gr daun dewa, cuci bersih semua bahan
– Rebus semua bahan dalam 5 gelas air, biarkan rebusan hingga air tersisa 3 gelas
– Saring air rebusan, tunggu sampai dingin dan minum 3 kali sehari masing-masing 1 gelas.

4. Rematik dan Asam urat
Pengobatan: Minum air rebusan
Cara membuat: – Campur 5 gram daging buah mahkota dewa dengan 15 gr akar sidaguri, 10 gr sambiloto kering, cuci bersih semua bahan
– Rebus semua bahan dalam 5 gelas air, biarkan rebusan hingga air tersisa 3 gelas
– Saring air rebusan, tunggu sampai dingin dan minum 3 kali sehari masing-masing 1 gelas. Ramuan diminum 1 jam sebelum makan

Leave a comment »

Khasiat Daun Sirih


Daun sirih sangat terkenal karena khasiatnya yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, yaitu dari mimisan (keluar darah dari hidung) sampai dengan diare dan sakit gigi

  • Mimisan

Ambil daun sirih satu lembar, gulung sambil di tekan agar keluar minyaknya lalu gunakan untuk menyumbat hidung yang mengeluarkan darh

  • Diare

Ambil 4 – 6 lembar daun sirih, 6 biji lada, 1 sendok makan minyak kelapa.
Tumbuk semua bahan bersama-sama sampai halus, lalu gosokkan pada bagian perut. Ulangi sampai sembuh

  • Sakit gigi

Pengobatan: Di kumur
1. daun sirih direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih lalu dinginkan air rebusan tersebut.
Gunakan air rebusan untuk berkumur. Diulang secara teratur sampai sembuh.
2. Ambil 2 lembar daun sirih yang telah diremas, garam secukupnya.

Caranya, bahan tersebuh diseduh dengan air panas sebanyak 1 gelas, kemudian aduk sampai garam larut, biarkan sampai dingin. Air tersebut digunakan untuk berkumur.

  • Alergi

Pengobatan: luar, di oleskan pada bagian yang gatal
Bahan: 6 lembar daun sirih, 1 potong jahe kuning, 1,5 sendok minyak kayu putih.

Caranya, semua bahan tersebut ditumbuk bersama-sama hingga halus, kemudian digosokkan pada bagian badan yang gatal-gatal.

Leave a comment »

Digoxin: Contoh Kasus Permasalah Dalam Biofarmasetika

Digoxin digunakan dalam pengobatan melemahnya otot jantung pada penderita hipertensi dan CHF (Congestive Heart Failure) yaitu volume darah yang dipompa oleh jantung kecil sehingga tidak mencukupi kebutuhan baik oksigen maupun nutrisi bagi tubuh). So, berarti obat ini digunkan pad kondisi life threatening (dipakai sepanjang umur hidup pasien).
Digoxin merupakan contoh obat yang memiliki masalah berkaitan dengan bioekivalensinya. Sebagai tambahan, theraprutic windows-nya sempit artinya obat ini sangat poten, dosisnya hanya 0,25 mg/tablet) terus profil dosis responnya yang tajam. Obat ini termasuk kelas II dalam klasifikasi biofarmasetika yaitu obat dengan karakteristik kelarutan rendah dan permeabilitas baik sehingga menimbulkan masalah dalam formulasinya.
Upaya peningkatan kelarutan digoxin sangat diperlukan, sehingga perubahan formulasi sangat berpengaruh terhadap bioavaibilitasnya, padahal formulasi tiap pabrik berbeda-beda so penting sebagai farmasis kita harus mempertimbangkan bioekivalesinya.
Perbedaan pabrik yang memproduksi tablet digoxin dapat menyebabkan terjadinya perbedaan bioavaibiltas (karnena absorbsi berbeda) dari digoxin karena raw material yang digunkan untuk memproduksi dapat berasal dari supplier yang berbeda, sehingga memungkinkan adanya perbedaan sifat fisikokimianya. Perbadan batch produksi juga dapat memberikan perbadaan bioavaibilitas dari digoxin. Pabrik yang sama saja belum tentu tablet digoxin yang diprodukssi bioekivalen kalau bahan bakunya bersal dari batch yang berbeda. Nah lo, rumit banget ya bikin obat yang safe untuk pasie. Jadi kepikiran gak ntar gimana di lapangan? So manfatkan PKL untuk mancari ilmu, apa-apa yang pengen kita tahu dicatet dari sekarang. Oke.
Perbedaan industri farmasi yang memproduksi tablet digoxin dapat menyebabkan perbedaan yang signifikan. Oleh karena itu, sebaiknya dhindari apabila akan melakukan penggantian atau substitusi tablet digosin ke pasien yang sudah stabil pada penggunaan digoxin dari pabrik tertentu. Karena sangat mungkin kedua produk tersebut bio-inekivalen. Apalagi umunya digoxin digunakan pada kondisi life threatening.
Obat dari batch atau lot yang berbeda menandakkan adanya perbedaan dalam hal formulasi yang memungkinkan terjadinya perbedaan absorpsi, akibatnya berbeda juga bioavaibilitasnya. Selain theraprutic window yag sempit dan profil dosis responnya tajam, sifat fisika kimia digoxin juga menyebabkan bioavaibilitasnya sangat dipengaruhi oleh variabel formulasi dan perubahan konsentrasi obat dalam darah akibat perubahan dari absorpsinya.
Dari gambaran di atas, maka untuk menyeleksi produk digoxin dari beberapa pabrik merupakan proses yang krusial sehingga data BA dan BE sangat diperlukan untuk diketahui. FDA di tahun 1974 menyaratkan BABE comparative sebagai akibat munculnya kasus pengubahan bahan pengisi fenitoin menggunakan laktosa di Australia , yang meningkatkan toksisitas dari fenitoin dan kasus talidomid di Eropa yang menyebabkan tertogenitas. Ceritanya BABE comparative ini oleh FDA untuk mengeliminasi masalah bio-inekuivalensi di antara satu produk, makanya perlu sertifikasi batch. Caranya bagaimana? Tunjukkan aja data uji disoulsinya. Tapi ternyata ada syarat lain yaitu produk digoxin harus disertai hasil uji BA comparative pakai cross over design sebagai akibat yang tadi, beda batch meskipun masih satu pabrik memungkinkan terjadi perbedaan profil BA yang signifikan. Di USA, jika terjadi perubahan formulasi yang kecil tidak perlu melakukan uji BA apabila sudah memiliki data korelasi in vivo- in vitro atau SUPAC (Skilll up, Push, Approval, Change)

Leave a comment »

Farmasi dan Alat kesehatan

Sebagian besar alat kesehatan yang diperdagangkan PT RNI berasal dari impor dimana PT RNI bertindak sebagai agen tunggal di Indonesia. Alat kesehatan tersebut meliputi alat laboratorium kecil sampai besar, alat-alat kedokteran gigi, reagent, benang bedah, dan lain lain.
Sedangkan beberapa alat kesehatan yang lain telah dapat diproduksi sendiri oleh PT RNI dan anak perusahaannya, seperti film rontgen (di poduksi oleh PT Trovi Rajawali Indonesia, bekerja sama dengan partner dari Perancis), jarum suntik (dengan merk Skifa), dan kondom (dengan merk Artika) yang diproduksi oleh PT Mitra Rajawali Banjaran, Bandung.

Produk farmasi atau obat-obatan dihasilkan oleh PT Phapros, Tbk di Semarang. Produk yang dihasilkan dapat dikelompokkan berdasarkan kriteria sebagai berikut :

Berdasarkan cara untuk memperoleh obat-obatan tersebut, jenis produknya dapat dipisahkan menjadi:

1. Kelompok obat bebas (obat yang dapat dibeli bebas di apotik, toko obat, bahkan warung-warung) misalnya: Antime, Livron B Pleks dan lain lain.
2. Kelompok ethical (obat yang dapat dibeli dengan resep dokter) misalnya: dextamin, pehatrim dan lain lain.

Berdasarkan status ijin yang dimiliki:

1. Obat paten (obat dngan merk tertentu yang terdaftar di DepKes, yang ijin produksinya hanya dimiliki oleh pabrik obat yang mendaftarkannya) misalnya Antimo milik Phapros.
2. Obat generik (obat yang komposisinya standar dan dibuat dengan menggunakan nama bahan utamanya) misalnya: ampicilyn, tetrasyclin, dan lain-lain.

Leave a comment »

BIOAKTIVITAS TERPENOID

BIOAKTIVITAS TERPENOID DARI AKAR

DAN DAUN Jatropha gaumeri

PENDAHULUAN

Perkembangan penggunaan obat-obatan tradisional khususnya dari tumbuh-tumbuhan untuk membantu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sudah cukup meluas.

Dalam tumbuhan biasanya terdapat senyawa hidrokarbon dan hidrokarbon teroksigenasi yang merupakan senyawa terpenoid. Kata terpenoid mencakup sejumlah besar senyawa tumbuhan, dan istilah ini digunakan untuk menunjukkan bahwa secara biosintesis semua senyaa tumbuhan itu berasal dari senyawa yang sama. Jadi, semua terpenoid berasal dari molekul isoprene CH2==C(CH3)─CH==CH2 dan kerangka karbonnya dibangun oleh penyambungan 2 atau lebih satuan C5 ini. Kemudian senyawa itu dipilah-pilah menjadi beberapa golongan berdasarkan jumlah satuan yang terdapat dalam senyawa tersebut, 2 (C10), 3 (C15), 4 (C20), 6 (C30) atau 8 (C40).

Terpenoid terdiri atas beberapa macam senyawa, mulai dari komponen minyak atsiri, yaitu monoterpena dan sesquiterepena yang mudah menguap (C10 dan C15), diterpena menguap, yaitu triterpenoid dan sterol (C30), serta pigmen karotenoid (C40). Masing-masing golongan terpenoid itu penting, baik dalam pertumbuhan dan metabolisme maupun pada ekologi tumbuha. Terpenoid merupakan unit isoprena (C5H8). Terpenoid merupakan senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 siklik yaitu skualena. Senyawa ini berstruktur siklik yang nisbi rumit, kebanyakan berupa alcohol, aldehid atau atom karboksilat. Mereka berupa senyawa berwarna, berbentuk kristal, seringkali bertitik leleh tinggi dan aktif optic yang umumnya sukr dicirikan karena tak ada kereaktifan kimianya.

Kegunaan terpenoid bagi tumbuhan antara lain :

v Fitoaleksin

v Insect antifectan, repellant

v Pertahanan tubuh dari herbifora

v Feromon

v Hormon tumbuhan

Dalam makalah ini, kami membahas mengenai bioaktivitas terpenoid pada akar dan daun Jatropha gaumeri (jarak). Karena pada tanaman ini terkandung golongan senyawa terpenoid dan juga pada ekstrak daun ini memiliki aktivitas antibakteri dan antioksidan. Aktivitas tersebut dihasilkan dengan isolasi dan identifikasi pada akar yang menghasilkan 2-epi-jatrogossidin (1). Salah satunya suatu rhamnofolane diterpene dengan aktifitas antimicrobial, dan kedua 15-epi-4E jatrogrossidentadione (2), suatu lathyrane diterpene tanpa aktivitas biologi. Dengan cara yang sama, pemurnian dengan penelitian yang telah diuji dari ekstrak daun dapat mengdentifikasi sitosterol dan triterpen amaryn, traraxasterol. Metabolit ini ternyata bisa digunakan sebagai aktifitas antioxidant.

Khasiat dari sebagaian besar pengobatan dapat ditunjukkan oleh jenis tumbuhan dari Genus Jatropa (Euphorbiaceae). Misalnya latex/getah yang masih baru dari beberapa tumbuhan genus ini digunakan dalam pengobatan masyarakat untuk perawatan bibir melepuh, jerawat, dan scabies. Sedangkan infus dari daunnya digunakan untuk perawatan bisul, infeksi luka dan diare. Untuk daun dan bijinya dipakai sebagai laksatif. Dari sifat fisika kimia dari genus Jatropa, dikenali sebagai sumber daya yang paling penting dengan jumlah struktur metabolit sekunder, contoh alkaloid, diterpene, lignin, triterpen, dan peptide siklik. Jumlah aktivitas biologis dari Jatropa spp dapat dideteksi dalam bahan alaminya, contoh antimikroba, antitumor dan sitoksik, dan aktivitas penghasil tumor.

Tumbuhan yang paling sering digunakan dalam pengobatan tradisional Yucatecan adalah Jatropa gaumeri. Dalam bahasa Mayan disebut “polmoche”. Tumbuhan tumbuh pada pantai di rimba Guatemala dan Belize, dan di Quintana Rood an Yucathan di Meksiko. Saat dipotong eksudat resin seperti susu dari tanaman ini digunakan untuk mengurangi skin rashes dan mulut melepuh. Dapat juga untuk perwatan demam dan patah tulang. Eksudatnya merupakan bagian yang digunakan untuk skrining yang ditujukan untuk pencarian metabolit aktif biologi dari tumbuhan Yucatecan.

Comments (1) »

Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Dengan Kasus Infeksi Paru Non TB Di RS Paru Jember Periode 1 Januari-31 Desember 2007;


Antibiotik ialah suatu zat yang dihasilkan oleh berbagai spesies mikroorganisme terutama fungi, yang dapat menghambat atau membasmi pertumbuhan bakteri jenis lain. Ketersediaan berbagai jenis antibiotik ternyata membawa kesulitan dalam pemilihan antibiotik secara tepat, aman, dan efektif untuk seorang pasien. Dampak dari penggunaan antibiotik yang kurang tepat akan menyebabkan berkembangnya kuman-kuman yang resisten terhadap antibiotik, perawatan menjadi lebih lama, dan biaya perawatan menjadi lebih mahal. Salah satu penyebab kematian utama pada hampir sebagian besar masyarakat di negara berkembang yang penatalaksanaannya membutuhkan terapi dengan antibiotik adalah penyakit infeksi paru non tuberculosis (TB) yang di dalamnya meliputi pneumonia, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) non pneumonia, dan abses paru. Di Kabupaten Jember, berdasarkan hasil survey oleh Dinas Kesehatan pada tahun 2005, kasus-kasus infeksi paru non TB menempati posisi keempat setelah kasus penyakit diare, demam berdarah, dan TB dengan persentase rata-rata sebesar 7,75%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis, rute, dosis, dan lama penggunaan antibiotik yang diberikan pada pasien dalam pengobatan kasus infeksi paru non TB serta profil kasus infeksi paru non TB (usia dan jenis kelamin pasien serta persentase tingkat kejadian penyakit) di RS Paru Jember selama periode 1 Januari-31 Desember 2007.

Penelitian dilakukan secara non-eksperimental dengan rancangan deskriptif, analisis, dan retrospektif. Bahan penelitian yang digunakan adalah Dokumen Medik Kesehatan (DMK) pasien infeksi paru non TB Rumah Sakit Paru Jember mulai tanggal 1 Januari-31 Desember 2007 yang diambil secara acak (simple random sampling) sebanyak 92 sampel. Data-data kualitatif yang diperoleh disajikan dalam bentuk uraian atau narasi, sedangkan data kuantitatif disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.

Dari penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa penggunaan antibiotik terapi yang diberikan pada pasien dengan kasus infeksi paru non TB di RS Paru Jember terdiri dari amoksisilin PO sebesar 69,56%; ampisilin PO sebesar 1,09%; sefadroksil PO sebesar 11,96%; sefotaksim IV sebesar 7,61%; siprofloksasin PO sebesar 8,69%; dan levofloksasin PO sebesar 1,09%. Sedangkan untuk profil kasus infeksi paru non TB tertinggi di RS Paru Jember terjadi pada pasien usia dewasa dengan persentase sebesar 70,65% yang didominasi oleh pasien perempuan sebanyak 38,04% terdiri dari 41,30% kasus bronkitis kronis, 15,22% kasus bronkitis akut, 10,87% kasus bronkopneumonia, 4,35% kasus abses paru, 3,26% kasus common cold (selesma), 2,17% kasus brokhiolitis akut, 1,09% kasus pneumonia, dan sisanya sebesar 21,74% termasuk dalam kasus ISPA yang tidak digolongkan. Secara keseluruhan, dosis yang diberikan serta lama penggunaan dalam terapi untuk masing-masing antibiotik sesuai dengan yang direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO) sehingga dapat dikatakan bahwa obat-obat tersebut dapat menghasilkan efek terapeutik yang menunjang keberhasilan pengobatan pasien. Namun selama dilakukan penelitian menggunakan data yang tertera pada DMK, ternyata diketahui bahwa hampir semua pasien tidak mendapatkan pemeriksaan mikrobiologi. Hal ini mungkin diakibatkan kesulitan dalam memperoleh sampel sebagai bahan pemeriksaan baik dari segi teknis maupun faktor biaya. Selain itu, ternyata tidak keseluruhan data yang tertulis di DMK benar-benar sesuai dengan kriteria pencatatan dalam DMK yaitu correct, complete, dan clear.

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.